Regulasi BPOM Makin Ketat, Kenapa Regulatory Officer Jadi Profesi yang Dicari Industri Kosmetik & Herbal?
Tim Latih • 14 Juli 2026

Kalau belakangan ini kamu sering lihat lowongan "Regulatory Officer" atau "Regulatory Affairs" muncul di industri kosmetik dan obat herbal, itu bukan kebetulan. BPOM tengah menyisir aturan main di sektor ini lebih ketat dari sebelumnya, dan perusahaan yang tidak siap bisa kena sanksi berat — mulai dari pembekuan izin sampai ancaman pidana.
Bagi perusahaan, ini artinya satu hal: mereka butuh orang yang paham betul cara "berbicara" dengan BPOM. Bagi kamu yang sedang cari kerja atau mempertimbangkan pindah jalur karier, ini artinya peluang.
Apa Itu Regulatory Officer di Industri Kosmetik dan Herbal?
Regulatory Officer adalah orang yang memastikan produk kosmetik atau obat herbal sebuah perusahaan boleh secara hukum diproduksi dan dijual di Indonesia. Tugasnya mencakup:
- Mengurus notifikasi dan pendaftaran produk baru ke BPOM
- Memastikan kemasan, label, dan klaim di artwork produk sesuai ketentuan yang berlaku
- Menjadi penghubung antara tim R&D/produksi dengan persyaratan regulasi
- Mengoordinasikan proses dengan pabrik OEM, baik lokal maupun internasional, supaya proses registrasi berjalan lancar
- Memperbarui dokumen perusahaan setiap kali ada perubahan aturan
Posisi ini sering jadi jembatan antara dunia "ilmiah" (formulasi, bahan baku) dan dunia "hukum" (perizinan, kepatuhan) — makanya dibutuhkan hampir di semua perusahaan kosmetik dan herbal, dari skala UMKM sampai multinasional.
Kenapa Permintaan Regulatory Officer Meningkat Tajam
Ada beberapa perubahan regulasi nyata yang membuat posisi ini makin krusial dalam setahun terakhir:
1. Aturan sertifikasi CPKB diperbarui total. BPOM menerbitkan Peraturan BPOM No. 8 Tahun 2026 tentang Sertifikasi Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik (CPKB), berlaku sejak akhir April 2026 dan menggantikan aturan lama tahun 2021. Aturan baru ini memang menyederhanakan sebagian proses birokrasi, tapi di saat bersamaan sanksinya diperberat: BPOM bisa membekukan akses elektronik pengajuan notifikasi maupun sertifikat CPKB perusahaan yang melanggar, sampai satu tahun penuh.
2. Persyaratan teknis bahan kosmetik ikut diperbarui. Lewat PerBPOM No. 25 Tahun 2025, ketentuan teknis soal bahan yang boleh dan tidak boleh dipakai dalam kosmetik direvisi mengikuti UU Kesehatan yang baru. Artinya, formula lama yang dulu aman-aman saja bisa jadi perlu ditinjau ulang kepatuhannya.
3. Ancaman pidana jauh lebih berat. Di bawah UU No. 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan, pelaku usaha yang mengedarkan kosmetik tanpa izin edar atau tidak memenuhi standar keamanan bisa terancam pidana penjara hingga 12 tahun atau denda hingga Rp5 miliar. Ini level risiko yang jauh berbeda dari sekadar teguran administratif.
4. Pengawasan rutin makin agresif. Data pengawasan BPOM sendiri menunjukkan tren ini bukan cuma di atas kertas — pada triwulan pertama 2026, BPOM menindak 11 produk kosmetik yang mengandung bahan berbahaya atau dilarang, dan jumlahnya naik jadi 14 produk pada triwulan kedua. Ditambah penertiban kosmetik ilegal di jalur e-commerce yang nilainya mencapai puluhan miliar rupiah.
Kombinasi aturan yang lebih ketat, sanksi yang lebih berat, dan pengawasan yang makin sering ini membuat perusahaan tidak bisa lagi menyerahkan urusan kepatuhan ke staf yang merangkap tugas lain. Mereka butuh orang yang fokus, paham prosesnya, dan bisa mengikuti perubahan aturan secara real-time — di situlah Regulatory Officer jadi posisi strategis, bukan sekadar posisi administratif.
Skill yang Wajib Dimiliki Regulatory Officer Kosmetik & Herbal
Kalau kamu tertarik masuk ke jalur ini, berikut kemampuan inti yang biasanya dicari:
- Memahami sistem notifikasi dan perizinan BPOM, termasuk alur di sistem OSS (Online Single Submission)
- Manajemen dokumentasi yang rapi — dossier registrasi, sertifikat bahan baku, hasil uji lab
- Ketelitian membaca regulasi yang sering berubah dan menerjemahkannya jadi langkah kerja konkret
- Kemampuan koordinasi lintas tim, karena kamu akan sering berkomunikasi dengan R&D, produksi, marketing, hingga pabrik OEM
- Update berkelanjutan — regulasi BPOM tidak statis, jadi kebiasaan mengikuti perubahan aturan jadi nilai tambah besar
Jenjang Karier: Dari Regulatory Officer ke Level Manajerial
Posisi ini punya jalur karier yang cukup jelas. Biasanya dimulai dari Regulatory Officer atau Regulatory Affairs Staff, lalu berkembang ke posisi seperti Regulatory Compliance Assistant Manager yang tanggung jawabnya lebih luas — termasuk terlibat langsung dalam audit pabrik dan koordinasi lintas yurisdiksi untuk produk yang dipasarkan ke luar negeri. Dari sana, jenjang berikutnya biasanya mengarah ke Regulatory Affairs Manager atau QA Compliance Manager.
Cara Tercepat Memahami Peran Ini Tanpa Kuliah Ulang atau Kursus Berbulan-bulan
Masalahnya, kompetensi soal regulasi BPOM ini jarang diajarkan detail di bangku kuliah, dan pelatihan formal dari lembaga training biasanya dibanderol jutaan rupiah per orang untuk sesi tatap muka atau live webinar sekali jalan.
Kalau kamu cuma butuh gambaran menyeluruh dan mendalam soal peran ini — baik untuk persiapan melamar kerja, atau untuk tim HR yang ingin memahami kompetensi apa yang harus dicari saat merekrut — Latih.co menyediakan webinar rekaman "Kenal Profesi: Regulatory Officer" yang bisa ditonton kapan saja, selamanya, dengan sekali bayar.
Yang kamu dapatkan:
- Rekaman kelas lengkap yang bisa diputar ulang kapan saja
- Soft file materi presentasi
- Worksheet dan studi kasus
- Sertifikat digital yang bisa diverifikasi, didapat setelah lulus kuis dengan nilai minimal 80
- Voucher diskon 10% untuk kelas online training Latih berikutnya
Kelasnya dipandu praktisi berpengalaman di bidang regulatory kosmetik dan herbal, disusun supaya kamu paham betul lingkup kerja, tantangan sehari-hari, dan skill yang perlu disiapkan — tanpa perlu ikut training tatap muka berbiaya jutaan rupiah.
Harga: Rp 55.000 — akses selamanya.
Tonton Webinar Rekaman Regulatory Officer →
Pertanyaan yang Sering Ditanyakan
Apakah Regulatory Officer harus lulusan Farmasi atau Apoteker? Tidak selalu. Banyak perusahaan membuka posisi ini untuk lulusan Farmasi, Kimia, Teknologi Pangan, atau bidang terkait lainnya, selama punya ketelitian tinggi dan kemauan mempelajari regulasi secara mendalam.
Apa beda Regulatory Officer dan Regulatory Compliance Assistant Manager? Regulatory Officer biasanya fokus menjalankan proses notifikasi dan dokumentasi harian. Regulatory Compliance Assistant Manager punya cakupan lebih luas, termasuk audit pabrik dan koordinasi lintas yurisdiksi untuk ekspor produk.
Berapa lama durasi webinar rekamannya? Sekitar 2 jam, bisa ditonton dan dijeda kapan saja sesuai waktu kamu.
Apakah sertifikatnya diakui? Sertifikat digital dari Latih.co bisa diverifikasi keasliannya melalui halaman verifikasi sertifikat resmi Latih.co.
Referensi:
- Peraturan BPOM Nomor 8 Tahun 2026 tentang Sertifikasi Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik — pom.go.id
- Peraturan BPOM Nomor 25 Tahun 2025 tentang Persyaratan Teknis Bahan Kosmetik — standar-otskk.pom.go.id
- Siaran Pers BPOM triwulan I dan II 2026 tentang pengawasan kosmetik — pom.go.id
